Kenapa Kita Cenderung “Ikut-Ikutan” Orang Lain? Ini Lah Conformity Dalam Psikologi

Pernah enggak, sih? kamu lagi nongkrong bareng teman, semua pesan matcha latte, akhirnya kamu ikutan pesan juga—padahal sebenarnya lebih suka kopi hitam. Atau di kelas, ketika mayoritas teman mengacungkan tangan jawab “iya,” kamu pun ikut bilang “iya,” meski hati sedikit ragu. Kenapa, sih, kita sering tergoda untuk ikut-ikutan? Ternyata, nama fenomena ini adalah conformity, alias kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan suatu kelompok sosial.

Secara sederhana, conformity berarti perubahan sikap atau perilaku supaya “nyambung” dengan lingkungan sosial di sekitar kita. Ada dua jenis utama:

FYI, teori tentang ini sudah lama dipelajari oleh psikolog seperti Deutsch dan Gerard (1955)

    Dalam kondisi gelap, sebuah titik cahaya yang sebenarnya diam tampak seperti bergerak. Ketika peserta memperkirakan gerak cahaya secara berkelompok, estimasi mereka jadi menyatu—meski keliru. Bahkan saat dites sendiri lagi, mereka tetap memperkirakan sesuai dengan kelompoknya. Ini bukti bahwa conformity bisa menembus pemahaman pribadi (informational influence).

    Peserta diminta menebak panjang garis, bersama orang-orang yang berpura-pura (konfederat). Saat konfederat memberi jawaban salah—padahal jelas keliru—sekitar 75% peserta tetap ikut menjawab sama, cuma untuk “nyambung” (normative influence)! 

    Menurut laporan Investopedia (2025), ulasan konsumen online kini dianggap sebagai pengganti word-of-mouth, bahkan lebih efektif daripada iklan tradisional. Contohnya ulasan positif bisa meningkatkan penjualan pesat, sedangkan ulasan negatif bisa menghentikannya. Keautentikan ulasan penting—ulasan yang beragam menimbulkan lebih banyak kepercayaan.

    Riset tahun 2025 menemukan bahwa 72% Gen Z mendapatkan inspirasi makan dari media sosial, terutama TikTok (84%) dan Instagram (75%). Dari mereka, 44% membeli bahan makanan karena melihatnya di media sosial. 42% melakukan pembelian setelah melihat rekomendasi online, ditambah insentif seperti diskon. Fenomena ini jelas menunjukkan bagaimana informasi—bukan sekadar mood—mempengaruhi keputusan.

    So, kalau ada dari kita tahu jawaban yang benar, tapi karena tekanan circle bikin kita bilang “iya” meski tahu salah—gila, ya!

    Banyak riset menunjukkan bahwa Gen Z cenderung mempercayai informasi dari individu (influencer), komunitas, atau sistem rekomendasi dibanding dari sumber resmi atau tradisional. Inilah wujud informational influence yang bekerja real-time dan terasa lebih dekat:

    So, Conformity: Benar atau Salah?

    Kelebihan:

    • Menguatkan keharmonisan sosial (misal disiplin antre atau tertib di tempat umum).
    • Membantu saat situasi benar-benar membingungkan — mengikuti bisa jadi solusi cepat.

    Kekurangan:

    • Mengikis kreativitas dan keberanian berpikir mandiri.
    • Bisa memicu “groupthink,” yaitu keputusan buruk karena terlalu mengutamakan kesepakatan.
    • Membawa kita ikut tindakan yang salah hanya demi terlihat “normal.”

    Tidak ada benar salah, ya dalam conformity adanya adalah bagaimana cara supaya kamu lebih “sadar” supaya gak cuman ikut-ikutan circle aja, bagaimana caranya? Kalau kamu lagi merasa “apa ikutan aja ya?”, coba tanya ke diri sendiri:

    Sedikit refleksi bisa bikin kita lebih peka, lebih kritis, dan lebih jujur pada diri sendiri — tanpa kehilangan rasa nyaman di tengah-tengah teman. Kalau namanya teman sejati pasti akan menghormati teman yang berbeda pandangan, kan? Sekian tentang Conformity semoga bermanfaat, ya!

    Tinggalkan komentar