
Ada keheningan yang tergurat di balik tubuh yang terus bergerak—diam-diam, ada hati dan jiwa yang merajut simpati. Seperti pelita kecil dalam kegelapan, empati mampu menerangi luka-luka yang tak tersuarakan. Pada kacamata psikologi, empati bukan sekadar kata—ia adalah jembatan yang menyatukan rasa antar sesama manusia.
Kejadian yang baru saja terjadi dimana seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan—Rahimahullah insha Allah, yang tidak sedang berdemo—hanya tengah menjalankan tugasnya di tengah gemuruh aksi massa. Ia tiba-tiba dilindas oleh mobil kendaraan taktis (RANTIS) Brimob, sebuah kejadian yang tak hanya merenggut nyawanya, tapi juga nurani masyarakat indonesia. Di sisi lain amarah publik tertuju pada para bapak dan ibu yang “katanya” terhormat yang berada dibalik gulir-nya pemerintahan, dimana empati kalian? Atau dimana kalian saat rakyat ingin bertemu dengan hasil kampanye dan janji manis yang saat ini berubah layaknya bisa ular yang membunuh secara perlahan.
“ Humanitarianism occurs where the political has failed or is in crisis.” — Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières)
Ketika sistem pemerintahan gagal melindungi warga, hanya tindakan kemanusiaan yang menjawab keberadaan manusia yang dirugikan. Bahwa ketika sistem gagal menjamin keselamatan seseorang — entah karena kelalaian atau penindasan — maka yang ada hanyalah kekosongan nilai dan tanggung jawab. Affan Kurniawan bukan hanya korban kecelakaan; ia adalah cermin kegagalan sistem yang seharusnya melindungi setiap nyawa.
Menurut kajian psikologis, empati adalah kemampuan memahami dan ikut merasakan apa yang orang lain alami—bukan sebagai penonton, tapi sebagai sesama manusia. Dalam penelitian oleh Firmansyah (2022), ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat empati seseorang, maka semakin rendah kecenderungan mereka melakukan bullying. Ini buktikan bahwa empat perasaan sesungguhnya bisa melembutkan hati yang keras dan menggugah kesadaran sosial. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah menjadi aparat penegak hukum yang dilengkapi dengan kendaraan taktis dan senjata dididik untuk tidak memiliki empati? Bahkan ada salah satu penyelenggara negara yang menyebut pendemo dengan label “tolol” dan “brengsek” Kata-kata seperti itu bukan hanya melukai—tapi menandakan kebekuan empati di dalam ruang publik. Bukannya membangun dialog, ia malah mencipta jurang. Ini adalah alarm: ketika empati hilang, kita tersingkir dari esensi kemanusiaan.
Agar tidak hilang empati seperti bapak dan ibu yang terhormat apa yang bisa kita lakukan?
- Mendengar Lebih Dalam
Dalam hiruk-pikuk berita dan opini publik, mendengarkan bukan lagi sekadar mendengar—tetapi merasakan. Dengarlah kisah Affan bukan hanya sebagai berita, melainkan panggilan untuk introspeksi.
- Sikap Reflektif
Bila mendengar kata “tolol” atau “brengsek” ditujukan kepada orang yang tengah bersuara karena keresahan, tanya pada diri sendiri: apakah itu mencerminkan sikap kritis atau justru kekosongan empati?
- Empati sebagai Tindakan Nyata
Empati bukan hanya emosi—ia mendorong aksi. Mendorong transparansi dalam kasus Affan, mendukung keluarga korban, memperkuat perlindungan pekerja rentan: empati berwujud nyata dalam respons yang penuh integritas.
Di tengah tubuh yang terus berjalan, semoga jiwa kita tetap punya ruang untuk meresapi rasa yang paling manusiawi—empati. Karena tanpa itu, kita bukanlah manusia seutuhnya—melainkan sekadar makhluk yang bernafas.
“Mari tanamkan empati, agar duka seperti Affan tidak lagi menjadi cerita yang hilang dalam kebekuan.”