
Seperti perkataan Rene Descartes “Cogito, ergo sum”—Aku berpikir, maka aku ada. Menurutnya, tubuh dan pikiran adalah dua entitas berbeda: tubuh bersifat fisik dan diatur oleh hukum mekanik, sedangkan pikiran atau jiwa adalah non-fisik dan sumber kesadaran kita. Ia menyebutkan bahwa keduanya bisa berinteraksi—meski dijelaskan melalui ‘kelenjar pineal’, penjelasan ini jelas dipertanyakan—tapi ia menciptakan ruang konseptual penting: bahwa pikiran memiliki peran nyata dalam kehidupan manusia
Pada abad 4 BCE Plato ngomong nih kalau raga dan jiwa itu asalnya beda, kalu raga kita ini “mortal” atau fana nah jiwa dan pikiran kita ini “immortal” atau abadi. Selain Plato, Aristoteles juga ikutan nimbrung, nih. Katanya jiwa dan raga itu tidak bisa dipisahkan karena jiwa itu adalah wujud asli dari raga.
Nah, meski beberapa penjelasan soal “jiwa adalah substansi terpisah” kini dianggap terlalu absolut, kontribusinya membuat psikologi bisa muncul sebagai ilmu mandiri. Pikiran jadi objek studi, bukan cuma “bonus” dari tubuh biologis.
Penelitian kontemporer saat ini justru menekankan betapa pikiran dan tubuh saling memengaruhi. Misalnya, efek placebo menunjukkan bahwa harapan (pikiran) bisa menyembuhkan tubuh. Sementara psikoneuroimunologi membuktikan stres atau emosi negatif dapat memicu respons imun yang melemah
Pendekatan embodied cognition juga menunjukkan bahwa pikiran bukan hanya berada di otak—tubuh dan lingkungan fisik turut membentuk bagaimana kita berpikir dan merasakan
Menggabungkan Jiwa dan Tubuh Menghasilkan Keharmonisan
Jadi, jika kamu awalnya berpikir tubuh itu “rumit” karena banyak organ dan sel yang harus berdetak, mencerna makanan, dan sebagainya, jangan lupa: jiwa lah yang menggerakkan tubuh itu dengan tujuan, cinta, keinginan, nafsu.
Nah, kalau kamu merasa bad mood atau lemas—coba cari hal-hal yang bikin ketawa, berhenti sejenak, meskipun hanya lewat napas panjang. Itu adalah bukti sederhana betapa pikiran bisa memperbaiki keharmonisan tubuh dan sebaliknya.
| Perspektif | Penjelasan Singkat |
| Descartes (Dualitas) | Tubuh dan pikiran berbeda, tapi bisa saling memengaruhi (secara filosofis). |
| Psikologi Modern | Pikiran dan tubuh saling terkait—psikologi melihatnya sebagai sistem terintegrasi. |
| Embedded dalam Hidup | Momen-momen kecil seperti tertawa, bernapas, atau merasa healing membawa bukti jiwa ikut bermain. |
“Di balik raga yang rumit, ada jiwa yang menghidupkan.” Bukan sekedar kalimat puitis, tapi pengingat bahwa kita bukan sekadar tubuh yang berjalan—kita adalah kesatuan pikiran, tubuh, emosi, dan pengalaman. Jadi, lain kali kamu merasa kelelahan atau berat, ingat: butuh istirahat fisik, tapi juga jeda hati dan pikiran.
Sumber:
Britannica. (n.d.). Mind-body dualism. In Encyclopædia Britannica. Retrieved from https://www.britannica.com/topic/mind-body-dualism
Descartes, R. (n.d.). René Descartes. In Wikipedia. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Ren%C3%A9_Descartes
Oxford Research Encyclopedia of Psychology. (2019). Mind-body relationship in psychology. Oxford University Press. Retrieved from https://oxfordre.com/psychology/abstract/10.1093/acrefore/9780190236557.001.0001/acrefore-9780190236557-e-486
Simply Psychology. (n.d.). The mind-body debate. Retrieved from https://www.simplypsychology.org/mindbodydebate.html
Verywell Mind. (2021). What is embodiment?. Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-is-embodiment-5217612
Verywell Mind. (2023). A deep dive into dualism: The mind-body puzzle. Retrieved from https://www.verywellmind.com/dualism-the-mind-body-puzzle-8638612
Wikipedia. (n.d.). Mind-body dualism. In Wikipedia. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Mind%E2%80%93body_dualism Wikipedia. (n.d.). Embodied cognition. In Wikipedia. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/Embodied_cognition